Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

07 November 2012

Manusia Sempurna

Begitu Allah sayang kita,
Manusia yang diciptakan-Nya sebagai makhluk yang tersempurna,
Beragam nikmat karunia berlimpah terkadang tak disadarinya,
Tidaklah diciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Nya, itulah firman-Nya,

Selepas fajar menyingsing, masih dalam duduk simpuh selepas subuh,
Jamaah masjid yang semoga Allah mempertemukan mereka kelak di jannah-Nya,
Terduduk, terangguk membenarkan kalimat tausiyah sang ustadz,
Bahwa sejatinya, tanpa apapun dan dalam kondisi bagaimanapun di dunia ini, kita sudah selayaknya bersyukur.

Nikmatnya penglihatan,
nikmatnya pendengaran,
nikmatnya penciuman,
nikmatnya perasaan,
Semua adalah karunia-Nya.
 
Kedua mata yang sangat berharga, sangat sangat berharga.
Ditawarkan kepada semua, satu mata satu innova, semua memicing-menggeleng kepala
Sekali lagi,
Kedua mata itu betapa sangat berharga, sangat sangat berharga.
Lantas ditawarkan kepada semua, satu mata lagi baginya, semua membelalak-menggeleng kepala ternganga..

Pun dengan yang lainnya,
Hidung, telinga, mulutnya,,,,
Sudah pada jumlah dan posisi yang sempurna dari-Nya
Itu semua hanya di hadapan manusia, yang mengerti hitungan satu dan dua.
Maha Suci Allah Yang Telah Menciptakan makhlukNya dengan beragam kesempurnaan.
Hanya Dia-lah Yang Mengetahui sebenar-benar hakikat kesempurnaan
Mengapa ia begini, mengapa ia begitu,
Semua sempurna namun tak satupun sama. 

Maka, apapun bagaimanapun,
Manusia telah terlahir sempurna,
dengan segala kekurangan dan kelebihannya itulah, ia menjadi sempurna. 

Keyakinan adalah kunci kehidupan, dengan belajar dan mengambil pelajaran.
Belajar syukur agar bertambah ilmu dan kepahaman
Mengambil pelajaran agar senantiasa Allah limpahkan hikmah dari telaga kesabaran.

"Dengan segala kekurangan dan kelebihannya itulah, ia manusia menjadi sempurna"

Renungan kajian sabtu pagi di Masjid Nurul Islam Pandega
-terima kasih kepada guru kehidupan dari lahir hingga masa berakhir-

06 November 2012

Ikhlas Bagaikan Susu

Allah menggambarkan keikhlasan sejati bagaikan susu; terancam kotoran dan darah, tapi terupayakan. Ia murni, bergizi, mengandung tenaga inti. Ia mudah diasup, nyaman ditelan, lancar dicerna oleh peminum-peminumnya, menjadi daya untuk bertaat dan bertakwa (Q.s. an-Nahl [16] ayat 66). Maka menjadi penulis yang ikhlas sungguh payah dan tak mudah, ada goda kotoran dan darah, ada rayuan kekayaan dan kemasyhuran, ada jebakan riya’ dan sum’ah. (Salim A Fillah dalam Menulis dari Makna hingga Daya)

22 Juli 2012

Ketika Ramadhan Datang Kembali

Marhaban Yaa Ramadhan,,
Alhamdulillah bisa berjumpa kembali dengan bulan mulia penuh berkah rahmat dan ampunan,
Mengingat kembali momen-momen di setiap Ramadhan adalah seperti melihat rangkaian kisah akan indahnya skenario Allah. Dan kini ia hadir kembali, ahlan wa sahlan Yaa Ramadhan,,,

Marhaban Yaa Ramadhan,,
Bismillah, mudahkanlah setiap langkah ibadah hamba di bulan ini Yaa Allah,,sebagai bekal yang nilainya berlipat di hadapan Engkau, semoga Engkau ridha, semoga Engkau cinta,,

Marhaban Yaa Ramadhan,,
Astaghfirullah, ampunkanlah hamba, terimalah taubat hamba Yaa Ghofuur,,,atas setiap prasangka hamba yang tidak baik kepada-Mu, atas setiap ketidaktaatan hamba kepada-Mu, atas setiap apa yang terbetik di pikiran hamba, terucap di lisan hamba, dan terlaku oleh perbuatan hamba,,, mohon ampun Yaa Allah,,

Marhaban Yaa Ramadhan,,
Subhanallah, Engkau hadirkan dalam pandangan ini keindahan dari berbagai keajaiban ciptaanMu, maka mohon hadirkanlah keindahan yang sama dalam hati hamba Yaa Allah, akan akhirat yang baik, surga firdaus-Mu, maka hamba berdoa seperti doa Asiyah "Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga", doa seorang istri shalihah yang Engkau abadikan dalam firman suci-Mu surat At Tahrim ayat 11.

Marhaban Yaa Ramadhan,,
Allahu Akbar, atas kebesaran Engkau Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang masih tersembunyi, berikanlah petunjuk bagi hamba atas pilihan Engkau yang terbaik, yang Engkau ridhoi, yang dengannya hamba akan semakin dekat dengan-Mu Yaa Allah,,, Robbanaa hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyyaatinaa qurrota a'yun waj'alnaa lilmuttaqina imamaa.

Marhaban Yaa Ramadhan,,
Hanya kepada Engkaulah hamba memohon, Robbanaa aatina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqinaa 'adzabannar. Saat pulang nanti, hamba mohon berikanlah husnul khotimah Yaa Allah, bersama malaikat-malaikat terbaik,,karena itulah saat-saat terindah dalam hidup. Allahumma Aamiin,,

Ramadhan Mubarok, 1406-1433 H
"Bersegera menuju surga"

07 Agustus 2011

HAL-HAL YANG MENAKUTKAN DI ALAM KUBUR

Oleh
Ustadz Dr Ali Musri Semjam Putra, MA
sumber : www.almanhaj.or.id

Apabila kita mengamati nash-nash yang shahîh dari al-Qur‘ân dan Sunnah serta ditopang oleh pemahaman dan pandangan para Ulama dalam memahami nash-nash tersebut, maka diketahui bahwa manusia akan melewati empat alam kehidupan, yaitu: alam rahim, alam dunia, alam barzakh (kubur), alam akhirat. Semua proses kehidupan setiap alam tersebut memiliki kekhususan masing-masing, tidak bisa disamakan antara satu dengan lainnya. Misalnya alam rahim, mungkin saja bisa diketahui sebagian proses kehidupan di sana melalui peralatan kedokteran yang canggih, tapi di balik itu semua, masih banyak keajaiban yang tidak terungkap dengan jalan bagaimana pun. Semua itu merupakan rahasia yang sengaja Allah Azza wa Jalla tutup dari ilmu dan pandangan umat manusia. Allah Azza wa Jalla telah menerangkan dalam firman-Nya yang berbunyi:

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Tidaklah kalian diberi ilmu kecuali sedikit saja. [al-Isrâ‘/17:85]

Apalagi bila kita hendak berbicara tentang kehidupan alam kubur dan alam akhirat, tiada pintu yang bisa kita buka kecuali pintu keimanan terhadap yang ghaib, melalui teropong nash-nash al-Qur‘ân dan Sunnah. Beriman dengan hal yang ghaib adalah barometer pembeda antara seorang Mukmin dengan seorang kafir, sebagaimana termaktub dalam firman Allah Azza wa Jalla :

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ

Kitab (al-Qur‘ân) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib”. [al-Baqarah/2:2-3]

Banyak nash dari al-Qur‘ân dan Sunnah yang mengukuhkan persoalan ini, yang tidak mungkin diuraikan dalam tulisan yang singkat ini.

KEADAAN MANUSIA DI ALAM KUBUR
Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti akan melewati alam kubur. Alam ini disebut pula alam barzakh yang artinya perantara antara alam dunia dengan alam akhirat, sebagaimana firman Allah k yang artinya, “Apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, ia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekalikali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada Barzakh (pembatas) hingga hari mereka dibangkitkan. [al-Mukminûn/23:100]

Para ahli tafsir dari Ulama Salaf sepakat mengatakan, “Barzakh adalah perantara antara dunia dan akhirat, atau perantara antara masa setelah mati dan hari kebangkitan. [1].

Alam Barzakh dinamakan dengan alam kubur adalah karena keadaan yang umum terjadi. Karena pada umumnya jika manusia meninggal dunia, dia dikubur dalam tanah. Namun, bukan berarti orang yang tidak dikubur terlepas dari peristiwa-peristiwa alam barzakh. Seperti orang yang dimakan binatang buas, tenggelam di lautan, dibakar ataupun terbakar. Sebab Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Seperti yang diceritakan Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

عَنْ أَبِي هُر َيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللَّه صَلى اللَّهِ عَلَيْهِ وَ سَلَمَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لَمْ يَعْمَل خَيْرًاقَطُّ فَإِذَا مَاتَ فَحَرِّقُوْهُ وَاذْرُوْانِصفَهُ فِي البَرِّ وَنِصفَهُ فِي الْبَحْرِ فَوَ اللَِّهِ لَئِنْ قَدَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ لَيُعَذِ بَنَّهُ عَذَابًا لاَ يُعَذِّبُهُ أَحَدًا مِنْ العَالَمِيْنَ فَأَمَرَ اللّهُ الْبَحْرَ فَجَمَعَ مَافِيْهِ وَأَمَرَ الْبَرَّ فَجَمَعَ مَا فِيْهِ ثُمَّ قَالَ لِمَ فَعَلْتَ قَالَ مِنْ خَشْيَتِكَ وَأَنْتَ أَعْلَمُ فَغَفَرَلَهُِ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang yang tidak pernah beramal baik sedikit pun berkata kepada keluarganya: apabila ia meninggal maka bakarlah dia, lalu tumbuk tulangnya sehalus-halusnya. Kemudian sebarkan saat angin kencang bertiup, sebagian di daratan dan sebagian lagi di lautan. Lalu ia berkata, ‘Demi Allah, jika Allah mampu untuk menghidupkannya, tentu Allah akan mengazabnya dengan azab yang tidak diazab dengannya seorang pun dari penduduk alam. Maka Allah memerintahkan lautan dan daratan untuk mengumpulkan abunya yang terdapat didalamnya. Maka tiba-tiba ia berdiri tegak. Lalu Allah bertanya kepadanya, “Apa yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut? Ia menjawab, “karena takut kepada-Mu dan Engkau lebih mengetahui (isi hatiku)”. Kemudian Allah mengampuninya. [2]

Dari kisah di atas dapat kita lihat bagaimana seseorang tersebut berusaha untuk lari dari azab Allah Azza wa Jalla dengan cara yang menurut akal pikirannya dapat membuatnya lolos dan lepas dari azab Allah Azza wa Jalla. Tetapi hal tersebut tidak dapat melemahkan kekuasaan Allah Azza wa Jalla . Bila seandainya ada seseorang mau melakukan tipuan terhadap Allah Azza wa Jalla agar ia terlepas dari azab kubur, sesungguhnya kekuasaan Allah Azza wa Jalla jauh lebih kuat daripada tipuannya. Pada hakikatnya yang ditipu adalah dirinya sendiri.

Di alam kubur manusia akan mengalami kehidupan barzakh sampai terompet sangkakala ditiup oleh malaikat Israfil. Di sana, ada yang bersukacita dan ada pula yang berdukacita, ada yang bahagia dan ada pula yang menderita. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Barâ’ bin ‘Azib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba apabila akan menjumpai kehidupan akhirat dan berpisah dengan kehidupan dunia, para malaikat turun mendatanginya, wajah mereka bagaikan matahari. Mereka membawa kain kafan dan minyak harum dari surga. Para malaikat tersebut duduk dengan jarak sejauh mata memandang. Kemudian malaikat maut mendatanginya dan duduk dekat kepalanya seraya berkata, “Wahai jiwa yang baik keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah.” Maka keluarlah ruh itu bagaikan air yang mengalir dari mulut wadah air minum. Maka malaikat maut mengambil ruhnya. Bila ruh itu telah diambil, para malaikat (yang membawa kafan dan minyak harum) tidak membiarkan berada di tangannya walaupun sekejap mata hingga mengambilnya. Lalu mereka bungkus ruh itu dengan kafan dan minyak harum tersebut. Maka keluarlah darinya aroma, bagaikan aroma minyak kasturi yang paling harum di muka bumi. Mereka membawa ruh itu naik menuju (ke langit). Mereka melewati para malaikat yang bertanya, “Siapa bau harum yang wangi ini?” Maka mereka menyebutnya dengan panggilan yang paling baik di dunia. Sampai naik ke langit, lalu mereka meminta dibukakan pintu langit, maka lalu dibukalah untuknya. Malaikat penghuni setiap langit mengiringinya sampai pada langit berikutnya. Dan mereka berakhir pada langit ketujuh. Allah berkata, ‘Tulislah kitab hamba-Ku pada ‘Illiyyin (tempat yang tinggi) dan kembalikan ia ke bumi, sesungguhnya Aku menciptakan mereka dari bumi, kemudian di sanalah mereka dikembalikan dan akan dibangkitkan kelak. Selanjutnya, ruhnya dikembalikan ke jasadnya. Lalu datanglah kepadanya dua malaikat,keduanya menyuruhnya untuk duduk. Kedua malaikat itu bertanya kepadanya, ‘Siapa Rabbmu?’ Ia menjawab, “Rabbku adalah Allah”. ‘Apa agamamu?’ Ia menjawab,agamaku Islam’. ‘Siapa orang yang diutus kepadamu ini?’ Ia menjawab, ‘Ia adalah Rasulullâh. ‘Apa ilmumu?’ Ia menjawab, ‘Aku membaca kitab Allah dan beriman dengannya’. Lalu diserukan dari langit, ‘Sungguh benar hambaku’. Maka bentangkanlah untuknya tikar dari surga-Ku. Dan bukakan baginya pintu surga. Maka datanglah kepadanya wangi surga dan dilapangkan kuburnya sejauh mata memandang. Selanjutnya, datang kepadanya orang yang berwajah tampan, berpakaian bagus dan harum mewangi. Ia (orang berwajah tampan) berkata, “Bergembiralah dengan semua yang menyenangkanmu. Inilah hari yang dijanjikan untukmu.” Maka ia (mayat) pun bertanya, “Siapa anda, wajahmu yang membawa kebaikan?” Maka ia menjawab, “Aku adalah amalmu yang shaleh”. Ia bertanya lagi, “Ya Allah, segerakanlah Kiamat agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku.”

Dan bila seorang kafir, ia berpindah dari dunia dan menuju ke alam akhirat. Dan para malaikat turun dari langit menuju kepadanya dengan wajah yang hitam. Mereka membawa kain rami yang kasar, mereka duduk dengan jarak dari mayat sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut duduk di dekat kepalanya. Ia berkata, “Wahai jiwa yang kotor, keluarlah menuju kemurkaan Allah.” Selanjutnya, ruhnya pun menyebar ke seluruh tubuhnya dan malaikat maut mencabut ruhnya dengan kuat seperti mencaput sisir besi dari ijuk yang basah. Bila ruh itu telah diambil, para malaikat itu tidak membiarkannya sekejap mata di tangan malaikat maut, sampai para malaikat meletakkannya pada kain rami yang kasar tersebut. Kemudian ia mengeluarkan bau yang paling busuk di muka bumi. Selanjutnya para malaikat membawa naik ruh tersebut. Tiada malaikat yang mereka lewati kecuali mereka mengatakan, ‘Bau apa yang sangat keji ini?’ ia dipanggil dengan namanya yang paling jelek waktu di dunia. ketika arwahnya sampai pada langit dunia dan malaikat meminta pintunya dibuka, akan tetapi tidak diizinkan. Kemudian Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah:


لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ
Tidak dibukakan untuk mereka pintu langit, dan mereka tidak akan masuk surga sampai onta masuk ke dalam lubang jarum”. [al-A‘râf/7:40]

Setelah itu, Allah Azza wa Jalla berkata, “Tulislah catatan amalnya di Sijjîn pada lapisan bumi yang paling bawah”.Dan ruhnya dilemparkan jauh-jauh. Kemudian Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat:


وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ
Barangsiapa yang berbuat syirik kepada Allah, maka seolah-olah ia telah terjatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan oleh angin ke tempat yang jauh [al-Hajj/22:31]

Setelah itu ruhnya dikembalikan ke jasadnya, dan datang kepadanya dua orang malaikat yang menyuruhnya duduk. Kedua malaikat itu bertanya, ‘Siapa Rabbmu? ia menjawab, ‘Ha ha, aku tidak tahu’. Mereka bertanya lagi, “Siapakah orang yang diutus kepadamu ini?” Ia menjawab, “Ha ha, aku tidak tahu.” Maka seseorang menyeru dari langit, “Sungguh ia telah berdusta.” Bentangkan tikar untuknya dari api neraka dan bukakan salah satu pinti neraka untuknya. Maka datanglah kepadanya angin panas neraka. Lalu kuburnya disempitkan sehingga tulang-tulang rusuknya saling berdempet. Kemudian datang kepadanya seorang yang berwajah jelek, berpakaian jelek dan berbau busuk. Orang itu berkata,“Berbahagialah dengan apa yang menyakitimu, inilah hari yang dijanjikan padamu.” Lalu ia (mayat) bertanya, “Siapa engkau yang berwajah jelek?” Ia menjawab, “Aku adalah amalanmu yang keji.” Lalu mayat itu mengatakan, “Rabb ku janganlah engkau datangkan Kiamat.” [3]


Jika seorang Muslim mau merenung sejenak bagaimana keadaan dan kondisi kehidupannya nanti di alam kubur, niscaya ia akan menjauhi perbuatan maksiat dan dosa. Bayangkan, bagaimana keadaan kita ketika berada dalam sebuah lubang yang sempit lagi gelap, serta tidak ada cahaya sedikit pun. Betapa mencekam suasana gelap itu dan menimbulkan rasa takut yang dalam, napas terasa sesak, semakin lama semakin sulit untuk bernapas, rasa haus, lapar, panas, mau berteriak tidak seorang pun yang mendengar.

Akan tetapi alam kubur jauh berbeda dari semua itu. Tidak hanya sebatas apa yang tergambar ketika kita berada dalam sebuah lubang sempit dan gelap. Suasana di sana akan ditentukan oleh amalan kita sewaktu di dunia. Orang yang beramal shaleh waktu di dunia, ia akan lulus dalam menjawab pertanyaan malaikat. Tidur di atas hamparan tikar dari surga, ditemani oleh orang berbau wangi dan berwajah tampan. Kemudian senantiasa mencium bau harum hembusan angin surga.

Adapun orang yang ketika hidup di dunia bergelimang dosa dan maksiat, apalagi melakukan perbuatan syirik. Ia tidak akan bisa menjawab pertanyaan malaikat. Tidur di atas hamparan tikar dari api neraka, di temani oleh orang berbau busuk dan berwajah buruk. Kemudian ia senantiasa mencium bau busuk hembusan panas api neraka. Bahkan setiap manusia akan diperlihatkan tempat tinggalnya saat di alam kubur pada waktu pagi dan sore. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِىِّ إِنْ كَانَ مِنْ أَهِلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهلِ الجَنَّةَ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْل النَّار يُقَالُ هََِذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَشَكَ اللَّهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Apabila seseorang telah mati, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya pada waktu pagi dan sore. Jika ia termasuk penghuni surga, maka diperlihatkan tempatnya di surga. Dan jika ia dari penghuni neraka maka diperlihatkan tempatnya di neraka. Kemudian dikatakan kepadanya, “Inilah tempatmu yang akan engkau tempati pada hari Kiamat”. [HR Muslim no. 5110, Ahmad no. 5656, Mâlik no. 502]

Di antara hikmah diperlihatkannya tempat seseorang di akherat kelak ketika berada di alam kubur adalah agar semakin menimbulkan rasa syukur dalam diri orang yang beramal shaleh. Ini adalah salah satu bentuk nikmat yang dirasakannya dalam alam kubur. Adapun bagi orang berbuat dosa, maka itu akan semakin menambah rasa kekecewaan dan penyesalan dalam dirinya. Ini adalah salah satu bentuk azab yang dialaminya dalam alam kubur. Hal ini sebagaimana disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

لاَ يَدْ خُلُ أَحَدٌ الْجَنَّةَ إِلاَّ أُرِيَ مٌَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ لَوْ أَسَاءَ لِيَزْ دَادَ شُكرْرًا وَلاَ يَدْ خُلُ النَّارَ أَحَدٌ إِلاَّ أُرِيَ مَقْعَدَهُ مِنْ الْجَنَّةِ لَوْ أحْسَنَ لِيَكُوْن عَلَيْهِ حَسْرَةً

Tidak seorang pun masuk ke dalam surga kecuali diperlihatkan kepadanya tempatnya di neraka,seandainya ia berbuat jelek, agar bertambah rasa syukurnya. Dan tidaklah seorang pun masuk ke dalam neraka kecuali diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga, seandainya ia berbuat baik, agar semakin bertambah atasnya rasa penyesalannya”. [HR al-Bukhâri no. 6084 dan Ahmad]

Dalam riwayat lain disebutkan: “Apabila seorang hamba diletakkan di kuburnya, dan para pelayatnya pergi meninggalkannya, sesungguhnya ia mendengar derap terompah mereka. Kemudian datanglah kepadanya dua orang malaikat dan menyuruhnya duduk. Mereka bertanya kepadanya, ‘Apa perkataanmu tentang orang ini?’ Adapun orang Mukmin, maka ia akan menjawab, Aku bersaksi bahwa ia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Lalu dikatakan kepadanya, ‘Lihatlah tempatmu di neraka. Sungguh, Allah telah menukarnya dengan surga, maka ia melihat keduanya. berkata Qatâdah, ‘Disebutkan kepada kami bahwa kuburnya di luaskan tujuh puluh hasta, yang dipenuhi oleh tumbuhan hijau sampai hari mereka dibangkitkan.” [HR al-Bukhâri no. 1285, Muslim no. 5115, Ahmad no. 11823]

KESIMPULAN:
1. Azab kubur bersifat umum bagi seluruh manusia,tidak khusus bagi umat nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .
2. Di antara azab atau nikmat kubur ada yang berhubungan dengan ruh dan jasad secara bersamaan dan ada pula yang khusus berhubungan dengan ruh saja.
3. Semua ruh orang yang telah meninggal dunia berada di alam Barzakh, sekalipun ia dimakan binatang buas ataupun dibakar.
4. Seseorang tidak akan masuk surga atau neraka kecuali setelah terjadinya hari Kiamat dan dibangkitnya seluruh manusia dari kuburnya.

PELAJARAN DI BALIK KEIMANAN KEPADA AZAB KUBUR
1. Menanamkan dalam diri seseorang sikap mawas diri dalam meninggalkan perintah-perintah agama.
2. Memiliki kemauan yang tinggi dalam melakukan amal shaleh, agar mendapat keberuntungan di alam kubur.
3. Menimbulkan rasa takut dalam diri seseorang untuk melakukan maksiat, agar terhindar dari azab kubur.
Wallâhu a‘lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XIII/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 begin_of_the_skype_highlighting              0271-858197      end_of_the_skype_highlighting Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Lihat tafsir at-Thabari 18/53.
[2]. Kisah ini terdapat dalam Shahîh al-Bukhâri no.7067 dan Shahîh Muslim: no. 7157
[3]. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Jâmi’ ash Shaghîr no 1676.

01 Agustus 2011

Satu Ramadhan, Ruh yang terlahir kembali

Satu Ramadhan,,
ketika gerbang segala kebaikan telah terbuka lebar,
ketika gerbang segala keburukan telah tertutup rapat,

ketika lembaran putih bersih siap dihiasi dengan ukiran indah kalimat suci,
ketika dzikir yang tiada akhir adalah amalan yang paling diridhoi,

Satu Ramadhan,,
ketika raga mungil itu mulai memasuki fase kehidupan dunia, bersih tanpa dosa,
ketika tangisan pertamanya disambut dengan sukacita,

ketika banyak orang mendoakan agar menjadi putri sholihah,
ketika harapan orang tua tertuang dalam sebuah namanya,

Satu Ramadhan,,
ketika kini hadir kembali untuk mengingatkan banyak hal,
ketika setiap detiknya tidak ingin disia-siakan tanpa amal kebaikan,

ketika hari ini menjadi moment baik untuk memulai dari awal,
ketika bayi mungil itu kini telah dewasa,

Iya, kini saya telah dewasa, usia pun seperempat abad, 
ketika kasih sayang orang tua bertambah besar,
namun saya belum bisa berbuat banyak untuk mereka,,,
belum bisa memberikan apa-apa,,,
belum bisa membuat kedua orang tua saya bahagia,,,
belum bisa mengabulkan keinginan mereka,,,
keinginan yang mungkin paling dekat saat ini adalah kelulusan saya.
agar tak menambah beban mereka, dan dapat segera menaiki tangga selanjutnya.

kesedihan ini menjadi doa Ya Allah, semoga Engkau selalu menyayangi mereka, selalu memberikan perlindungan kepada mereka, memberikan kesehatan, dan kebahagiaan dunia akhirat, jadikan keberkahan di setiap langkah mereka,,,Ya Rahman Ya Rahim,,

Satu Ramadhan,
Sungguh banyak sekali harapan di bulan mulia ini,
Sungguh mengingati dosa yang tinggi menggunung, berharap ampunan dari-Nya,
agar mengampuni dosa-dosaku,
menjauhkanku dari segala keburukan,
menjauhkan dari siksa kubur,
terlebih semoga menjauhkan dari siksa api neraka,

Sungguh banyak sekali harapan di bulan pernuh berkah ini,
Sungguh mengingat luasnya alam semesta beserta isinya, berharap rahmat dari-Nya,
agar rahmat dan hidayah-Nya tercurah pada hamba dan orang-orang beriman,
agar doa-doa dikabulkan, agar pintu-pintu rizki dibukakan,
agar nikmat beribadah meresap ke dalam hati,
agar dijauhkan dari segala penyakit hati,
agar diterima semua amal ibadah kami,
agar hikmah meliputi mata hati kami,
agar ikhlas, syukur, dan sabar selalu membahana di segenap hati kami,

semoga keberkahan senantiasa dalam kehidupan dunia wal akhirat,
Amin Yaa Robbal 'alamin,,

Renungan sebutir debu di jagat raya, memohon keajaiban Ramadhan dari Rabb-nya Yang Maha Agung,,
Saat adzan subuh bersahutan, menambah syahdu perenungan, semoga hamba yang kecil ini dapat mengingat-Mu selalu Ya Allah,,,amin.

Subuh pertama, Ramadhan 1406-1432 H

20 Februari 2011

Belajar dari sebuah akar

Belajar dari sebuah akar,
Yg terus berjuang tanpa lelah,
Mencari air dalam tanah,
Untuk menghidupi diri dan keluarganya,
Tak pernah dilihat ketika berbuah lebat,
...Dan takpernah dipuji ketika bunga indah bermekaran,
-dari FB Rumah Sehat-

28 Januari 2011

Bukan Milik Kita

Benar sekali apa kata shahabiyah saya yang baik hatinya, semua yang kita rasakan menjadi milik kita ini hakikatnya bukanlah milik kita. Semuanya hanya pinjaman, yang pada suatu waktu akan dikembalikan pada pemilik aslinya. Semuanya, semua yang kita merasa memilikinya. Benda-benda yang ada di sekeliling kita mulai dari laptop, hape yang kita gunakan ini hingga peniti pengancing jilbab ini. Semua hanya pinjaman. Baju yang sedang kita kenakan ini, bahkan jasmani yang kita rasa milik kita ini, juga hanyalah pinjaman. Semua akan kembali kepada pemiliknya, sifatnya tak abadi. Tak pantas sama sekali saya berbangga dengan apa yang sama sekali tidak pernah saya miliki. Sungguh Allah Maha Pemurah memberikan segala nikmat ini, sebagai sarana saya hidup di dunia, maka sungguh tak bersyukur jika saya menyiakannya begitu saja. Semua sarana ini harus bermanfaat bukan hanya bagi saya, tapi bagi sesama. Nikmat penglihatan, pendengaran, dan kesehatan ini semoga dapat saya manfaatkan sebaik-baiknya sehingga memudahkan pertanggungjawaban di akhir kelak. Amin.

-Jum'at berbahagia-