Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan

23 Januari 2012

Manajemen Waktu dalam Filosofi Toples


TOPLES WAKTU

Seorang professor berdiri di depan kelas Filsafat. Saat kelas dimulai, dia mengambil toples kosong dan mengisi dengan bola-bola Golf. Kemudian berkata kepada murid-muridnya, “Apakah toples ini sudah penuh … ?”. Mereka (seisi kelas)  setuju !!!

Kemudian dia (Professor) menuangkan batu koral ke dala toples, kemudian mengguncangkannya dengan ringan. Batu-batu koral tersebut mengisi tempat kosong dalam toples diantara bola-bola Golf. Kemudian dia bertanya kepada murid-muridnya (lagi),”Apakah toples sudah penuh … ?”, (dan lagi-lagi) mereka (murid-muridnya) mereka setuju !!!

Selanjutnya dia (professor) menaburkan pasir ke dalam toples tersebut. Tentu saja, pasir itu menutupi semuanya. Kemudian professor sekali lagi bertanya, ” Apakah toples sudah penuh … ?”. Serentak para murid menjawab, “Yessss…. !”

Kemudian professor itu kembali menuangkan dua cangkir kopi ke dalam toples, dan secara efektif mengisi ruang-ruang kosong antara pasir dalam toples.

Para murid tertawa ….

Sang professor kemudian berkata,” Sekarang saya ingin kalian memahami bahwa toples ini mewakili kehidupanmu …”
“Bola-bola Golf adalah hal yang penting; Tuhan, keluarga, anak-anak, dan kesehatan.”
“Jika yang lain hilang dan hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh.”
“Batu-batu koral adalah hal-hal lain, seperti pekerjaanmu, rumah dan mobil.”
“Pasir adalah hal yang sepele.”
“Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke dalam toples, maka tidak akan tersisa ruangan untuk batu-batu koral ataupun untuk bola-bola Golf…”

“Hal yang sama akan terjadi dalam hidupmu. Jika kalian menghabiskan energi untuk hal-hal yang sepele, kalian tidak akan mempunyai ruang untuk hal-hal yang penting buat kalian.”
“Jadi beri perhatian untuk hal-hal yang penting untuk kebahagiaanmu.”
“Bermainlah dengan anak-anakmu.”
“Luangkanlah waktu untuk check up kesehatan.”
“Ajak pasanganmu untuk keluar malam.”

“Berikan perhatian terlebih dahulu kepada bola-bola Golf, hal-hal yang benar-benar penting. Atur prioritasmu, baru yang terakhir urus pasirnya.”
Salah satu murid professor dalam kelas itu mengangkat tangan dan kemudian bertanya, “Kopi mewakili apa prof ?”

Professor tersenyum dan menjawab, ” Saya senang kamu bertanya .”
Kemudian melanjutan, ” Itu untuk menunjukkan kepada kalian, sekalipun hidupmu tampak sudah penuh, tetap selalu tersedia tempat untuk secangkir kopi bersama sahabat…”

sumber : http://dolphinkecil.wordpress.com/tag/filosofi/

Sahabat,,,,semoga dalam setiap waktu kebersamaan kita yang telah lewat dan yang akan datang, Allah SWT senantiasa meridhoi dan memberikan keberkahan dalam kebaikan yang tak kan pernah terputus. Amin,,

Januari 2012,,,dalam dekapan ukhuwah : )

18 Maret 2011

Pemimpin yang Mendengar

Oleh Ahmad Syahirul Alim Lc*
Seperti biasa, Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA menunggang keledainya di tengah kota. Selain untuk bertegur sapa dengan sahabat dan rakyatnya, Khalifah juga memeriksa kondisi rakyatnya, menolong orang-orang yang memerlukan, dan mencegah kezaliman terjadi di negerinya.

Hari itu, seorang nenek tiba-tiba menghentikan keledai yang ditumpangi Umar. Nenek itu langsung menceramahinya. "Hei Umar, aku dulu mengenalmu sewaktu kau dipanggil Umair (Umar kecil), yang suka menakuti-nakuti anak-anak di pasar Ukadz dengan tongkatmu. Maka hari-hari pun berlalu hingga kau disebut Umar, dan kini engkau Amirul Mukminin... Maka bertakwalah engkau kepada Allah atas rakyatmu! Barang siapa yang takut akan ancaman Allah maka yang jauh (akhirat) akan terasa dekat. Barang siapa yang takut akan kematian tidak akan menyia-nyiakan kesempatan, dan barang siapa yang yakin akan al-hisab (hari penghitungan), ia akan menghindari azab (Allah)."

Umar hanya terdiam mendengar perkataan sang nenek tua itu. Tak satu kata pun terucap dari mulutnya. Sampai-sampai Al-Jarud Al-Abidy yang menemani Umar merasa terganggu dengan sikap nenek tua itu. Al-Jarud berkata, "Hei Nenek, Engkau telah berlebihan atas Amirul Mukminin."

"Biarkanlah ia...," cegah Umar Ra kepada Al-Jarud. "Apa engkau tidak mengenalnya? Dialah Khaulah* yang perkataannya didengar oleh Allah dari atas tujuh lapis langit maka Umar lebih berhak untuk mendengarnya," tutur Amirul Mukminin.

Bahkan dalam riwayat lain, Umar berkata: "Demi Allah, seandainya ia tidak meninggalkanku sampai malam tiba, aku akan terus mendengarkannya sampai ia menunaikan keinginannya. Kecuali jika datang waktu shalat, aku akan shalat lalu kembali padanya, sampai ia menuntaskan keinginannya."

Umar RA selalu setia mendengarkan keluhan rakyatnya. Amirul Mukminin tak segan-segan untuk memohon maaf jika telah merasa lalai. Ia lalu menuntaskan hajat rakyat yang sudah menjadi kewajibannya. Sebagai khalifah, ia bahkan pernah memikul sendiri karung gandum dan menyerahkannya pada seorang janda di ujung kota.

Begitulah Umar memberikan keteladanan kepada kita semua. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai pendengaran yang peka terhadap keluhan, bahkan kritikan rakyatnya. Ia menyadari betul, kekuasaannya hanyalah amanah yang harus ia tunaikan kepada para pemiliknya, yaitu rakyat yang dipimpinnya.

Khalifah Umar bukanlah tipe pemimpin yang haus sanjungan. Sebab, ia selalu mengingat firman Allah SWT, "Janganlah sekali-kali kamu menyangka, orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih." (Ali Imran: 188)

--
*Khaulah, gugatannya diabadikan dan menjadi asbabunnuzul surat Al-Mujadilah


*sumber: Republika cetak (15/3/11)
*posted: pkspiyungan.blogspot.com